Perbedaan Fingerprint pada Mesin Absensi dan Access Control

Teknologi fingerprint atau sidik jari berguna untuk membantu proses identifikasi seseorang secara cepat dan praktis. Dalam penerapannya, fingerprint dapat kita temukan dalam berbagai perangkat, termasuk mesin absensi fingerprint dan access control.

Sekilas, kedua perangkat tersebut terlihat memiliki fungsi yang sama karena sama-sama menggunakan sidik jari sebagai metode verifikasi. Namun, sebenarnya terdapat sejumlah perbedaan dari sisi bentuk, teknologi, kegunaan, komponen, pengelolaan data, hingga sistem kerja. Berikut penjelasannya:

1. Fungsi Utama Jadi Pembeda Yang Mendasar

Perbedaan paling mendasar terletak pada tujuan penggunaannya. Mesin absensi fingerprint bertujuan untuk mencatat waktu kehadiran karyawan. Ketika seseorang melakukan scan sidik jari, perangkat akan mengenali identitas pengguna dan menyimpan waktu transaksi. Data tersebut juga bisa untuk mengetahui jam masuk, jam pulang, keterlambatan, lembur, dan rekap kehadiran.

Sementara itu, fingerprint pada access control untuk menentukan apakah seseorang memiliki izin untuk memasuki area tertentu. Setelah sidik jari terverifikasi, sistem akan memeriksa hak akses pengguna. Jika pengguna tersebut memiliki izin, sistem dapat memberikan perintah kepada perangkat pengunci untuk membuka pintu.

Dengan kata lain, mesin absensi lebih berfokus pada pencatatan waktu kehadiran, sedangkan access control berfokus pada pemberian izin untuk akses tertentu.

2. Perbedaan Bentuk Perangkat

Mesin absensi fingerprint umumnya berbentuk terminal yang terpasang di dinding. Bagian depannya memiliki sensor fingerprint dan layar untuk menampilkan informasi pengguna maupun status transaksi.

Pada beberapa model, mesin absensi juga terdapat keypad atau touchscreen, kamera untuk pengenalan wajah, speaker, serta indikator suara atau lampu.

Sementaram, access control fingerprint memiliki bentuk yang lebih beragam. Perangkat dapat berupa terminal dengan layar maupun fingerprint reader berukuran kecil di dekat pintu.

Desain access control biasanya lebih sederhana dan berorientasi pada kebutuhan autentikasi di titik akses. Perangkat tersebut dapat terpasang di samping pintu dan terhubung dengan sistem pengunci.

Dalam sistem yang lebih kompleks, fingerprint reader tidak berdiri sendiri. Perangkat tersebut dapat terhubung dengan access controller yang mengatur komunikasi antara reader dan perangkat pengunci pintu.

3. Perbedaan Teknologi Fingerprint

Pada dasarnya, kedua perangkat sama-sama menggunakan teknologi biometrik untuk membaca karakteristik sidik jari. Namun, jenis sensornya bisa saja berbeda tergantung model dan kebutuhan perangkat. Beberapa teknologi sensor fingerprint yang umum antara lain optical, capacitive, dan ultrasonic.

Sensor optical menggunakan sistem optik untuk menangkap pola sidik jari. Sensor capacitive membaca perbedaan karakteristik permukaan jari berdasarkan perubahan kapasitansi. Sementara sensor ultrasonic memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk membaca struktur sidik jari.

Pada mesin absensi, teknologi fingerprint biasanya dioptimalkan agar mampu melakukan identifikasi dengan cepat karena penggunaannya berulang kali setiap hari oleh banyak orang.  Sementara, pada access control, kecepatan tetap penting, tetapi sistem juga lebih menitikberatkan pada keamanan autentikasi karena hasil verifikasi menentukan apakah seseorang dapat memasuki area tertentu.

Baca Juga: Macam-Macam Penyebab Fingerprint Gagal Scan

4. Perbedaan Cara Kerja

Mesin absensi fingerprint bekerja dengan proses identifikasi yang bertujuan mencatat transaksi kehadiran. Ketika karyawan menempelkan jarinya pada sensor, perangkat akan membaca karakteristik sidik jari dan membandingkannya dengan data fingerprint yang sebelumnya sudah terdaftar.

Jika pola sidik jari sesuai dengan salah satu data pengguna yang tersimpan, mesin akan mengenali identitas karyawan tersebut. Setelah berhasil memverifikasi identitas, sistem akan mencatat waktu scan sebagai transaksi kehadiran. Data tersebut kemudian tersimpan di dalam memori mesin atau lalu terkirim ke server maupun software absensi untuk proses lebih lanjut.

Sebagai contoh, ketika karyawan datang pada pagi hari dan melakukan scan, sistem mencatat waktu tersebut sebagai jam masuk. Ketika karyawan melakukan scan kembali saat pulang, transaksi berikutnya dapat tercatat sebagai jam keluar. Data dari kedua transaksi tersebut kemudian dapat untuk menghitung durasi kerja, keterlambatan, maupun lembur sesuai pengaturan sistem.

Pada access control fingerprint, proses awalnya hampir sama, yaitu pengguna melakukan pemindaian sidik jari dan sistem mencocokkannya dengan data biometrik yang telah terdaftar. Perbedaannya terdapat pada proses setelah identitas berhasil dikenali.

Setelah pengguna teridentifikasi, sistem access control akan memeriksa apakah pengguna tersebut memiliki hak untuk memasuki area yang bersangkutan. Pemeriksaan dapat mempertimbangkan identitas pengguna, Lokasi pintu, jadwal akses, serta aturan keamanan yang telah administrator tentukan.

Jika pengguna memiliki izin, access control akan memberikan perintah kepada perangkat pengunci agar pintu dapat terbuka dalam waktu tertentu. Setelah periode tersebut berakhir, pintu kembali terkunci. Sistem juga dapat menyimpan catatan bahwa pengguna tersebut telah melakukan akses.

Sebaliknya, jika sidik jari berhasil terkenali tetapi pengguna tidak memiliki izin untuk memasuki area tersebut, sistem akan menolak akses. Pintu tetap terkunci dan aktivitas tersebut dapat tercatat sebagai penolakan percobaan akses.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa proses fingerprint pada mesin absensi berhenti pada pengenalan identitas dan pencatatan transaksi, sedangkan pada access control proses berlanjut dengan pemeriksaan hak akses dan pengendalian perangkat pengunci.

5. Perbedaan Komponen

Mesin absensi fingerprint biasanya terdiri dari sensor fingerprint, prosesor, memori penyimpanan, layar, tombol atau touchscreen, serta koneksi komunikasi seperti USB, Ethernet, atau Wi-Fi tergantung model. Beberapa perangkat juga memiliki kamera, speaker, baterai cadangan, dan fitur komunikasi tambahan.

Sementara itu, sistem access control fingerprint dapat memiliki lebih banyak komponen karena berhubungan langsung dengan mekanisme pengamanan pintu. Komponen tersebut dapat meliputi fingerprint reader, access controller, electric lock atau magnetic lock, exit button, door sensor, power supply, jaringan komunikasi, dan software manajemen.

Pada perangkat standalone, beberapa komponen dapat berada dalam satu unit. Namun pada sistem access control yang lebih besar, reader dan controller biasanya dapat terpisahkan sehingga pengelolaan beberapa pintu menjadi lebih fleksibel.

6. Perbedaan Data yang Tersimpan

Mesin absensi menyimpan data yang berkaitan dengan transaksi kehadiran. Data tersebut dapat berupa identitas pengguna, waktu scan, status masuk atau keluar, serta informasi lain untuk pengolahan absensi. Dari sana, data tersebut menjadi acuan untuk pembuatan laporan kehadiran, keterlambatan, jam kerja, hingga lembur.

Access control memiliki data yang lebih berorientasi pada keamanan. Selain data identitas pengguna dan template biometrik, sistem juga menyimpan informasi mengenai hak akses pengguna. Sistem juga dapat mencatat log akses, seperti siapa yang melakukan akses, kapan terjadi permintaan akses, Lokasi pintu, serta penentuan akses diterima atau ditolak.

7. Perbedaan Integrasi

Mesin absensi biasanya terintegrasi dengan software absensi atau sistem pengelolaan karyawan. Data dari perangkat terkirim ke komputer atau server lalu memprosesnya menjadi laporan kehadiran. Dalam beberapa penerapan, data absensi juga dapat terhubung dengan sistem penggajian sehingga informasi jam kerja juga bisa untuk proses administrasi payroll.

Access control memiliki jenis integrasi yang lebih luas karena berhubungan dengan sistem keamanan fisik. Perangkat dapat terhubung dengan door lock, door sensor, exit button, alarm, CCTV, intercom, maupun software manajemen akses. Pada gedung atau fasilitas dengan banyak pintu, seluruh perangkat access control juga dapat terkelola melalui sistem terpusat.

8. Perbedaan Kegunaan

Mesin absensi fingerprint, satu perangkat mencakup seluruh lingkup Perusahaan, kantor, toko, sekolah dan lainnya, serta diperuntukan kepada semua karyawan.

Sementara access control fingerprint lebih banyak tertuju pada area khusus yang membutuhkan pembatasan akses. Contohnya ruang server, ruang arsip, laboratorium, ruang produksi, gudang tertentu, ruang manajemen, maupun area dengan tingkat keamanan khusus.

9. Perbedaan Hasil Akhir

Meskipun sama-sama melakukan proses scan sidik jari, hasil akhirnya berbeda. Pada mesin absensi, hasil scan berupa transaksi kehadiran. Sementara, pada access control, hasil scan berupa keputusan akses, dan juga memiliki data keluar masuk. Jika pengguna memiliki izin, pintu akan terbuka. Jika tidak memiliki izin, pintu akan tetap tertutup. Semua percobaan tersebut akan tercatat oleh sistem.

Dengan demikian, fingerprint pada mesin absensi menghasilkan data untuk kebutuhan administrasi kehadiran, sedangkan fingerprint pada access control menghasilkan keputusan yang berkaitan dengan keamanan dan akses fisik.

Apakah Mesin Absensi Fingerprint Bisa untuk Access Control?

Tidak semua mesin absensi fingerprint bisa menjadi bagian access control. Beberapa mesin memang memiliki fitur access control dan dapat terhubung dengan perangkat pengunci pintu, sedangkan model lainnya hanya untuk mencatat kehadiran.

Karena itu, sebelum menggunakan mesin absensi sebagai access control, perlu pemeriksaan apakah perangkat tersebut mendukung koneksi dan fungsi seperti relay, electric lock, magnetic lock, exit button, door sensor, atau access controller.

Sebaliknya, access control fingerprint juga belum tentu memiliki fungsi absensi yang lengkap. Jika kebutuhan utama adalah mengelola jam masuk, jam pulang, keterlambatan, lembur, dan laporan kehadiran, sebaiknya menggunakan perangkat yang memang untuk sistem absensi.

CV Cahaya Mustika
“Solusi Kebutuhan Kantor Anda”
Jl. MT Haryono, Ruko Istana Dinoyo B11
Kota Malang
TELP 0823-3766-4403